DETAIL BERITA

Lokakarya Pewaspadaan Jawa Timur: Dr. H. Rangga Sa'adillah S.A.P., M.Pd.I. Ingatkan Pendidikan Kebhinekaan di Tahun Politik

Oleh. Rozy Category. Public

Public

Bojonegoro, 8 Desember 2023 - Hotel Dewarna hari ini menjadi saksi persidangan gagasan dan pengetahuan dalam Lokakarya bertema "Fasilitasi Pewaspadaan Dini Masyarakat di Tahun Politik." Kegiatan ini, yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, melibatkan Dr. H. Rangga Sa'adillah S.A.P., M.Pd.I., Dosen sekligus Wakil Ketua I STAI Taswirul Afkar Surabaya.

Dalam paparannya yang mendalam, Dr. Rangga menyoroti konteks Pemilu 2024 yang semakin dekat, menggarisbawahi kompleksitas persiapan yang dilakukan oleh berbagai instansi pemerintahan, termasuk persiapan finansial yang tidak dapat diabaikan. Dia mengingatkan peserta bahwa keberhasilan Pemilu 2024 tidak hanya diukur dari segi teknis dan angka, tetapi juga dari upaya untuk menjaga persatuan dan menghindari adanya rasa sakit hati di kalangan masyarakat.

"Kami belajar dari pengalaman Pilpres 2019, yang meninggalkan polarisasi dan luka di tengah masyarakat. Sebagai negara demokratis, kita harus belajar untuk tidak hanya merayakan keberhasilan teknis Pemilu, tetapi juga membangun kebersamaan di antara kita," ujar Dr. Rangga.

Dalam konteks pendidikan kebhinekaan, Dr. Rangga menjelaskan bahwa kesadaran akan keberagaman adalah sunnatullah, sebuah fitrah yang tidak dapat dihindari. Pendekatan ini, menurutnya, bukan hanya tentang menghormati perbedaan pilihan politik, tetapi juga meresapi esensi kehidupan berdemokrasi sebagai wujud keadilan.

"Saat kita memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari kodrat, kita dapat memandangnya sebagai kekayaan, bukan sebagai konflik. Pendidikan kebhinekaan adalah kunci untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan toleran," papar Dr. Rangga.

Melirik statistik partisipasi politik di Jawa Timur dari 2009 hingga 2019, Dr. Rangga menyebutkan bahwa angka tersebut mencapai 82,53%, sebuah prestasi yang menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap proses demokrasi. Namun, ia memberikan peringatan agar tingginya partisipasi tidak disalahartikan sebagai legitimasi untuk mengadopsi politik identitas, yang bisa memecah belah keutuhan bangsa.

"Penting untuk menolak politik identitas. Dalam konteks politik modern, di mana musuh kita bukanlah penjajah, melibatkan diri dalam politik identitas dapat membawa risiko pecah belah dan kegaduhan," jelasnya.

Menyoroti peran penting pemilih muda dalam Pemilu 2024, Dr. Rangga menyampaikan data bahwa sekitar 54% dari total pemilih diperkirakan berusia 15–39 tahun. Dengan karakteristik yang dinamis dan adaptif, pemilih muda diarahkan untuk memberikan perhatian pada isu-isu krusial, seperti kesehatan, lingkungan, ketenagakerjaan, demokrasi, dan pemberantasan korupsi.

Namun, dalam menggunakan strategi 'gemoy-isasi' untuk memenangkan hati pemilih muda, Dr. Rangga memberikan peringatan bahwa substansi dan ide dari paslon harus tetap menjadi fokus utama. Ia berpesan agar masyarakat, khususnya pemuda, tidak terjebak hanya oleh kesan visual yang sementara.

"Jangan biarkan pemilihan pemimpin kita hanya dipengaruhi oleh popularitas atau penampilan yang 'keren'. Mari kita pandu generasi kita untuk memilih berdasarkan substansi dan visi misi yang jelas, bukan hanya sekadar 'gemoy'," tutup Dr. Rangga, menyisakan pesan yang mendalam bagi peserta lokakarya.

Semua Berita